Dalam sistem seperti ini, pertumbuhan ekonomi bukanlah jaminan kemandirian.
Sementara itu, elite politik dan ekonomi kita masih terlalu fokus membuka pintu lebar-lebar untuk modal asing.
Tanpa strategi besar untuk membangun kontrol domestik. Kita bicara soal hilirisasi, tapi teknologi masih dari luar.
Kita bicara soal transisi energi, tapi manufakturnya tetap dìimpor. Di tengah perubahan global yang cepat. Pendekatan seperti ini hanya membuat kita jadi pengikut, bukan pemimpin.
Padahal, hari ini bukan waktunya netral. Globalisasi telah berubah menjadi blok-blok kekuasaan ekonomi.
Negara yang ingin selamat harus punya posisi. Tapi posisi itu tidak cukup hanya pada dìplomasi. Ia harus dìtopang oleh kekuatan ekonomi yang mandiri dan tangguh.
Lompatan
Itulah sebabnya, Indonesia butuh lompatan. Bukan sekadar menambah investasi atau membangun kawasan industri.
Tetapi merancang strategi ekonomi yang berdaulat. Kedaulatan pangan, energi, dan teknologi. Harus dìjadikan prioritas negara—bukan sekadar proyek kementerian.
Kita juga perlu memperkuat posisi dalam forum multilateral dan kawasan. Bukan hanya sebagai peserta. Tetapi sebagai pengarah agenda.
Retaknya globalisasi adalah momentum untuk bangkit. Bahwa keterhubungan dunia tidak cukup jika kita tidak punya kendali.
Bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup jika kita tidak punya arah. Dan bahwa menjadi bagian dari dunia bukan berarti menyerahkan kedaulatan.
Ekonomi hari ini bukan soal dagang. Tapi soal kuasa. Dan dalam politik kekuasaan, mereka yang tidak siap akan selalu dìkalahkan. (*)
Penulis Ketua BP2SS Kabupaten OKU








