Terancam Longsor
Kepala Desa Peninjauan Nopi Taruna menyebut sedikitnya 10 rumah berada dalam zona ancaman longsor. Bahkan salah satu rumah kini hanya berjarak sekitar tiga meter dari bibir longsoran.
“Kalau sampai terjadi sesuatu, kita semua punya tanggung jawab. Jangan tunggu ada korban dulu,” katanya.
Kekhawatiran serupa dìrasakan Bohim, warga yang rumahnya berada paling dekat dengan titik longsor. Ia mengaku masih trauma dengan peristiwa longsor yang terjadi sekitar sepekan lalu.
“Waktu tanah jatuh ada suara keras, rumah terasa bergetar,” ujarnya.
Meski dìhantui rasa cemas setiap hari, Bohim mengaku tidak punya pilihan. Untuk pindah rumah pun dirinya belum memiliki kemampuan.
Sementara itu, Ketua UP BBWS Sumatera VIII, Tulus, mengatakan. Hasil survei lapangan akan segera dìlaporkan kepada pimpinan untuk dìtindaklanjuti.
Dalam waktu dekat, kata dia, akan dìlakukan penanganan darurat. Guna mencegah longsor semakin meluas dan menghindari risiko terhadap warga.
Untuk solusi jangka panjang, BBWS VIII mempertimbangkan pembangunan pengaman tebing. Seperti menggunakan paku bumi/ sheet pile atau dinding penahan (cor) yang dìpancang ke dalam tanah.
“Kalau hanya bronjong, seperti yang dìsampaikan warga tadi. Efektivitasnya memang kurang untuk kondisi seperti ini,” jelasnya.
Kini warga berharap kunjungan kali ini tidak sekadar menambah daftar survei. Sebab yang mereka butuhkan bukan lagi pengukuran dan dokumentasi. Melainkan alat berat, pekerjaan fisik, dan kepastian bahwa rumah mereka tidak ikut hanyut bersama tanah yang terus tergerus. (ep/and)







