Sejarah selalu membuktikan bahwa perubahan besar datang dari tangan generasi muda. Dalam konteks OKU hari ini, pemuda bukan hanya pelengkap politik. Tetapi harus menjadi subjek utama dalam kepemimpinan daerah ke depan.
Kita butuh pemimpin muda yang berani mengambil keputusan strategis dan tidak terjebak pada kepentingan elite lama. Berpikir dìgital dan responsif terhadap tantangan zaman. Seperti ekonomi kreatif, transparansi pemerintahan, dan pelayanan publik berbasis teknologi.
Dan dekat dengan rakyat, memahami denyut nadi generasi muda serta kebutuhan masyarakat bawah. Pemimpin muda bukan berarti belum matang. Tetapi mereka hadir dengan energi baru, bebas dari beban masa lalu.
Dan memiliki keberanian untuk membongkar sistem yang stagnan. Krisis yang dìhadapi OKU bukan krisis biasa. Ini adalah krisis arah, legitimasi, dan kepercayaan. Maka, solusi yang dìbutuhkan juga bukan solusi biasa.
Kita butuh pemimpin baru dari generasi muda OKU yang tidak hanya paham hukum dan pemerintahan. Tetapi juga dekat dengan realita kehidupan rakyat.
“Kita jangan ragu memberikan ruang kepada anak muda untuk memimpin. Karena kalau kita terus bergantung pada struktur lama. Yang terbukti gagal mengelola daerah. Maka OKU hanya akan menjadi kabupaten dengan potensi tanpa hasil nyata.”
Pemimpin yang hadir bukan hanya karena peluang politik. Tetapi karena panggilan nurani dan tanggung jawab moral. Pemimpin yang lahir dari proses demokrasi yang bersih. Bukan hasil kompromi politik kekuasaan.
OKU untuk Rakyat, Bukan Sekelompok Elit. Sudah saatnya kita semua sebagai warga OKU mengambil peran dalam menentukan masa depan daerah ini. Pilihan ada di tangan kita. Apakah kita ingin terus dìpimpin oleh pola lama yang membawa stagnasi. Atau memberi kesempatan pada generasi muda yang siap membuktikan diri dan bekerja untuk rakyat? (*)
Diaspora Pemuda OKU, Akademisi Unissula Semarang









