Ia juga menilai tradisi tersebut memiliki potensi besar dalam mendorong sektor pariwisata, khususnya ekonomi kreatif di daerah.
“Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong kemajuan di bidang pariwisata, terutama ekonomi kreatif,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Edward mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga ketertiban dan keselamatan selama pelaksanaan kegiatan.
“Selamat menggelar Midang Morge Siwe. Pesan kami, tetap jaga ketertiban dan keselamatan dalam merayakan,” pungkasnya.
Sementara itu, Bupati OKI, Muchendi Mahzareki, mengatakan Midang Morge Siwe merupakan warisan budaya tak benda yang menjadi kebanggaan masyarakat Kayuagung dan telah diakui pemerintah.
“Kita sambut adat ini dengan kebanggaan karena sudah diakui pemerintah sebagai warisan budaya tak benda masyarakat Kayuagung. Dalam acara ini tidak hanya pejabat yang hadir, tetapi juga banyak warga OKI yang pulang kampung untuk menyaksikan tradisi ini sehingga menimbulkan nostalgia,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menikmati kemeriahan tradisi tersebut dengan tertib.
“Mudah-mudahan semarak Lebaran 2026 ini menjadi lebih berkesan dan tetap tertib. Kita jaga bersama. Selamat Lebaran dan selamat menyaksikan Midang Morge Siwe,” katanya.
Sebagai informasi, Midang Morge Siwe merupakan tradisi arak-arakan budaya khas masyarakat Kayuagung. “Midang” berarti berjalan kaki atau berarak-arakan menggunakan pakaian adat, sedangkan “Morge Siwe” merujuk pada sembilan marga atau dusun asli pembentuk wilayah Kayuagung, yakni Kayuagung Asli, Perigi, Kutaraya, Kedaton, Jua-Jua, Sidakersa, Mangunjaya, Paku, dan Sukadana.
Dalam pelaksanaannya, tradisi ini menampilkan pemuda-pemudi yang mengenakan busana adat perkawinan (Mabang Handak) dan berjalan mengelilingi kota, khususnya di sepanjang Sungai Komering, dengan iringan musik tradisional tanjidor. Tradisi ini biasanya digelar pada hari ketiga dan keempat Idul Fitri atau dikenal sebagai Midang Bebuke. (ril/hum)









