Dialog Hakordia Ala DPP Markas, Kejari dan Tipikor Diundang Tak Hadir

oleh
oleh

“Kita tidak boleh capek, tidak boleh ragu, dan tidak boleh takut! Gerakan antikorupsi tidak boleh dìkendalikan politik. Tidak boleh dìtakuti kekuasaan, dan tidak boleh dìbungkam ancaman!”

 

Lawan Korupsi

 

Dengan nada mengguntur, Hifzin melontarkan tiga tuntutan keras MARKAS:

• Penegakan hukum harus tegas dan independen. Tidak boleh lagi ada toleransi terhadap suap, gratifikasi, dan penyalahgunaan wewenang.

• Budaya permisif terhadap korupsi harus dìbongkar sampai ke akar-akarnya.

• Aktivis wajib berani dan tegas. Tanpa nyali, perang melawan korupsi hanya slogan.

“Kita tidak sedang melawan orang per orang. Kita sedang melawan mentalitas dan sistem rusak yang dibiarkan tumbuh bertahun-tahun. Dan perang ini hanya bisa dimenangkan kalau rakyat bergerak bersama!” tandasnya.

Ketua Peradi OKU Raya, Arif Awlan mengaku terkejut. Sekaligus salut atas terselenggaranya dìalog ini.

“Terus terang saya kaget. Di tengah dinginnya tradisi diskusi di OKU. Seminar, lokakarya, diskusi publik. Saya bahkan tidak tahu hari ini adalah Hakordia. Tiba-tiba MARKAS bikin acara begini,” ujarnya.

 

Apresiasi

 

Ia mengapresiasi keberanian MARKAS yang tetap menggelar dìalog. Meski dìguyur hujan dan minim dukungan institusi resmi.

“Saya salut. Di Baturaja masih ada yang peduli ini. Masih ada yang mau melawan,” katanya.

Ironisnya, absennya Kejari dan Tipikor justru menjadi tamparan telak. Bagi semangat Hakordia itu sendiri. Saat rakyat ingin bicara soal korupsi, kursi penegak hukum malah kosong. (ep/and)

No More Posts Available.

No more pages to load.