Selain itu, perempuan yang menjadi konsumen dan sekaligus produsen konten dìgital menghadapi dìlema. Mengikuti stereotip yang populer agar diterima atau mencoba melawan. Dan menawarkan narasi alternatif yang lebih otentik.
Namun, perkembangan teknologi dìgital juga membuka peluang. Untuk meredefinisi konsep feminitas dan menggeser stereotip lama.
Akses Perempuan
Perempuan kini memiliki akses yang lebih luas. Untuk menciptakan konten mandiri yang menunjukkan keberagaman pengalaman, suara, dan ekspresi gender.
Media sosial dan platform dìgital memungkinkan perempuan membangun komunitas. Dan mengedukasi audiens tentang pentingnya penggambaran yang lebih inklusif dan progresif.
Perubahan ini menuntut kesadaran kritis dari semua pihak produsen dan konsumen. Untuk tidak hanya menerima stereotip. Tetapi juga mempertanyakan dan merekonstruksi narasi yang ada.
Kesimpulannya, stereotip feminin di media dìgital memengaruhi proses produksi. Dan konsumsi konten perempuan dengan cara yang kompleks dan saling terkait.
Sementara stereotip dapat mempersempit representasi dan membatasi audiens. Kekuatan dìgital juga memberikan ruang untuk resistensi dan inovasi narasi.
Memahami implikasi ini menjadi langkah penting. Agar media dìgital dapat menjadi ruang yang mendukung keragaman identitas perempuan. Dan mendorong perubahan sosial yang lebih inklusif.
“Teruslah berbicara, berkarya, dan berekspresi dengan penuh percaya diri. Karena di setiap kata dan gerakanmu, ada kekuatan. Untuk membuka pintu peluang baru dan memberdayakan diri serta banyak perempuan lain.” (*)
*Mahasiswa dan Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Bina Darma







