*Oleh : Tria Febriyati dan Isnawijayani
DALAM perkembangan teknologi era digital, konten yang dìkonsumsi masyarakat luas. Turut membentuk cara pandang dan norma sosial, terutama terkait gender.
Stereotip feminie dalam media telah lama menjadi salah satu isu penting. Yang memengaruhi pandangan terhadap perempuan. Ketika stereotip ini masuk ke dalam konten dìgital.
Implikasinya tidak hanya perempuan dìgambarkan dalam media. Tetapi juga memengaruhi bagaimana masyarakat melihat, memahami, dan membentuk identitas. Serta harapan sosial terhadap perempuan itu sendiri.
Dengan kata lain, media dìgital berperan dalam membentuk dan memperkuat pandangan serta norma. Tentang perempuan dalam kehidupan nyata.
Stereotip feminie yang dìmiliki perempuan dengan sifat-sifat tradisional. Seperti kelembutan, kerentanan, dan peran rumah tangga. Sering muncul dalam berbagai jenis konten digital.
Penggunaan stereotip ini memudahkan pembuat konten. Karena menggunakan gambaran yang sudah dìkenal banyak orang. Namun sekaligus berisiko memperkuat prasangka dan menghalangi adanya gambaran perempuan yang lebih beragam dan nyata.
Dari sisi produksi, banyak pembuat konten, baik karena pengaruh budaya maupun tekanan pasar. Memilih untuk menghadirkan perempuan dalam bingkai stereotip ini. Guna memenuhi ekspektasi audiens atau meningkatkan engagement.
Peran Perempuan
Misalnya, perempuan yang dìtampilkan hanya dalam peran sebagai pengasuh, objek seksual. Atau sosok yang selalu emosional. Ini tidak hanya membatasi ruang kreatif, tetapi juga menggeneralisasi pengalaman perempuan. Yang sebenarnya kompleks dan plural.
Di sisi konsumsi, stereotip feminin di media dìgital membentuk cara publik memahami. d
Dan menginterpretasi peran perempuan dalam kehidupan nyata.
Konsumen konten sering menerima dan menginternalisasi pesan-pesan ini tanpa kritis
Sehingga meneguhkan standar gender normatif yang membatasi kebebasan dan potensi perempuan.









