Jalur HTI PALI

oleh
oleh

Waktu pergi ke Lubuklinggau kami lewat jalan lintas tengah. Seperti biasa ya, waktu tempuhnya 9 jam.

Selain jalan lintas tengah berkelok kelok, menanjak dan menurun, juga lalulintasnya memang padat. Belum lagi pengaruh iring-iringan kompoi truk pengangkut Batubara.

“Lebih cepat lewat Pali yah,” ujar anak-anak.

Anak anak pun nyaman dalam perjalanan. Tidak ada yang pusing, mual atau pun muntah, seperti jika melewati rute selama ini.

 

Minusnya

 

Melintasi jalur PALI dan HTI, kita bisa sembari wisata mata melihat hamparan batang kayu di HTI.

Jalannya lebar. Mulus dan aman. Tapi, kalau melintas malam harus hati-hati. Karena jalan cor beton tebal itu bisa membuat celaka, kalau selip dan ban kendaraan keluar jalur.

Soalnya pinggiran cor beton/tepi jalan tinggi. Tidak ada berem (bibir penyangga jalan). Kalau ban terjatuh ke berem, akan sulit kembali ke jalan cor. Jadi harus hati-hati.

Terutama jika melintas malam hari. Selain sepi jalur HTI ini belum ada lampu jalannya. Jembatanya pun sebagian masih belum cor beton. Masih memakai kerangka besi.

Juga pengguna jalan harus hati-hati. Sebab, dalam area HTI sering melintas kawanan gajah. Di tepian jalan cor ada peringatan rambu jalur ini sering dilewati kawanan gajah. Hati-hati.

Namun, tetap jalur alternatif ini yang terbaik saat ini bagi masyarakat Musi Rawas dan sekitarnya. Khususnya yang mau berpergian ke Kota Palembang.

Dibandingkan jalur lintas tengah atau pun jalur Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin. (purwadi).

No More Posts Available.

No more pages to load.