Sumber biaya, Teknologi, dan benih Konsorsium dari RRC dengan ujung tombak PT. MALACCA.
Kegiatan Cetak sawah dìlanjutkan dengan Budidaya Tanaman Padi dan Jagung. Dengan pola pada musim taman 1 dan 2 adalah tanaman Padi. Dan musim tanam 3 komoditas Jagung.
“Semuanya full mekanisasi. Paket lengkap, mulai teknik produksi, panen-pasca panen dan pemasaran. Hasil produksi dìbeli dengan harga dasar sesuai dengan yang dìtentukan pemerintah,” tutur Listoyo.
Pola kemitraan ini, lanjut Listoyo, murni bisnis to bisnis tanpa menggunakan dana APBD dan APBN. “Makanya kita (Perhiptani) menggandeng perusahaan yang profesional (PT Malacca),” tegas Listoyo.
Sehingga harapannya, Sumsel akan berhasil menjadi Lumbung Pangan Nasional. Menuju 3 besar secara nasional.
“Ini tentu tidak terlepas dari dorongan, dukungan dan arahan dari Bapak H Herman Deru, Gubernur Sumatera Selatan,” kata Listoyo.
Program pola kemitraan ini, kata Listoyo ada dua, yakni ekstensifikasi (cetak sawah) dan intensifikasi. Untuk intensifikasi targetnya 190.000 Ha di Kabupaten Banyuasin.
“Semoga cita-cita kita semua tercapai. Untuk mewujudkan semboyan kita: Petani Sejahtera Penyuluh Bahagia,” tutup Listoyo. (wad)









