Pasar Tak Bertuan

oleh
oleh
Kondisi awal Pasar Korpri Ogan 4
Kondisi awal Pasar Korpri Ogan 4

*Menghidupkan yang mati dengan membunuh yang hidup (Sudut Pandang Penulis)

IDE awalnya pasar Korpi Ogan 4 Tanjung Baru hanya bersifat sementara. Untuk mengurai kemacetan dan kesemrawutan Pasar Atas Tugu Batu (dulu Tugu Beras).

Terutama memindahkan pedagang yang tumpah meluber ke jalan. Dan waktu itu, lapangan upacara Korpri pengelolaannya beralih ke Dinas Perhubungan. Yakni terminal tipe C.

Pinjam pakai penggunaan lapangan upacara Korpri ini terjadi pada 2017. Karena memang lapangan upacara ini tidak berfungsi alias nganggur nggur nggur…

Dinas Perhubungan membuat fasilitas seadanya dengan memodifikasi lokasi menjadi terminal tipe C.

Bahkan, sempat ada bus Perum DAMRI Cabang Palembang yang mangkal di sana. Angkutan antar kabupaten kota/provinsi ini mengambil rute Baturaja – Palembang atau sebaliknya.

Tetapi sayang, Perum DAMRI tidak bertahan lama. Entah kalah dengan travel atau dianggap tidak menguntungkan, manajemen Perum DAMRI tutup alias tidak operasi lagi di Baturaja.

Terminal tipe C tetap jalan, tetapi sepi. Logikanya memang terminal itu letaknya berdekatan dengan pasar.

Makanya, muncul pemindahan pedagang tumpahan atau kaki lima yang tidak memiliki lapak, namun ingin berdagang.

Usul saran pemindahan pedagang tumpahan tersebut pun dari Dinas Perhubungan OKU. Bupati Kuryana Aziz menyetujui karena sifatnya untuk mengatasi kesemrawutan dan kemacetan pasar atas.

Pemindahan pedagang ini tidak semudah makan semangkok bakso panas. Butuh waktu yang lama. Meski gratis tidak ada bayaran dan sewa menyewa lapak, pedagang masih meragukan karena kondisi lapangan korpri sepi.

Apalagi pedagang harus membuat sendiri tempat jualan. Tidak ada los sama sekali alias kosong. Butuh waktu bertahun-bertahun. Dari tahun 2017 hingga sekarang berjalan normal dan pedagang merasa nyaman.

“Semua pedagang itu gratis. Tidak ada pemungutan biaya sewa tempat dan lain-lain. Mengenai parkir, itu berbeda. Itu jasa pelayanan. Termasuk kebersihan dan penerangan itu semua jasa,” ujar Imam, Kabid di Dinas Perhubungan.

Artinya, tidak mudah membuat hal baru menjadi suatu kebiasaan. Setelah menjadi biasa sulit untuk merubahnya juga.

Imam tak keberatan atas rencana penutupan Pasar Korpri Ogan 4 itu. Toh memang bukan haknya Dinas Perhubungan. Mereka hanya membantu saja.