Berdamai dengan Aedes Aegepty

Masayu Indriaty Susanto SSi
Masayu Indriaty Susanto SSi
Oleh: Masayu Indriaty Susanto

SEJAK ditemukan pertama kali di Surabaya 55 tahun lalu, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga kini terus menelan korban.

Indonesia menempati peringkat dua kasus DBD terbanyak di Asia Tenggara. Hampir seluruh provinsi di Indonesia adalah kawasan endemik DBD.

Penyakit yang disebabkan virus ini hingga kini juga belum ada obatnya. Belum ada juga vaksin yang dianggap efektif.

Namun kini tengah dikembangkan pemberantasan nyamuk Aedes Aegepty, vektor penyebar virus DBD, menggunakan agen biologi bakteri wolbachia. Itupun masih dalam tahap percobaan.

Mau bagaimana lagi, negara kita yang beriklim tropis, lembab dan hangat, adalah habitat favorit nyamuk Aedes Aegepty.

Nyamuk ini memang suka hidup di daerah lembab. Berkembang biar di genangan air bersih. Karena itulah, musim hujan akan menyebabkan perkembangannya begitu cepat.

Aedes Aegepty memang berkembang sangat cepat. Bahkan disebut juga jenis nyamuk yang berkembang biak tercepat di dunia. Sekali bertelur, betinanya mampu memproduksi sampai 200 telur nyamuk.

Siklus hidupnya mengalami metamorfosis sempurna. Dari telur, menetas menjadi jentik (larva), kemudian menjadi pupa, lalu menjadi nyamuk dewasa. Proses ini memakan waktu sekitar 9-10 hari saja.

Aedes Aegepty suka berkembang biak pada genangan air bersih. Kurang suka di genangan air kotor, atau yang bersentuhan langsung dengan tanah.

Seperti di dalam vas bunga, kaleng bekas, bak air, talang air, termasuk juga genangan air di tumbuhan berdaun lebar seperti keladi.

Menariknya, nyamuk jantan mengisap sari bunga. Nyamuk betinalah yang mengisap daerah manusia.

Nyamuk betina mengisap darah manusia untuk menyuplai energi buat bertelur. Mereka mengisap darah manusia paling aktif pada pagi dan sore hari. Atau malam hari pada penerangan yang cukup.

Mampu Terbang 100 Meter

Namun yang berbahaya, nyamuk betina memiliki kemampuan multiple feeding. Artinya, mampu menghisap berkali-kali. Tidak hanya pada satu gigitan kepada manusia.

Inilah yang menyebabkan virus demam berdarah cepat menyebar.

Nyamuk-nyamuk ini mampu terbang hingga radius 100 meter. Selain virus demam berdarah, Aedes Aegepty juga menyebarkan penyakit lainnya seperti Demam Zika, Demam Kuning, dan  Chikungunya.

Bagaimana mengatasinya? Tentu saja dengan memberantasnya secara tuntas. Terutama memberantas tempat perkembangbiakannya.

Seperti Fogging, membubuhkan bubuk abate di tempat-tempat penampungan air, mengubur dan memusnahkan kaleng bekas atau tempat apapun yang bisa menampung air, dan sebagainya.

Namun, pencegahan yang paling penting yaitu memutus rantai penularan. Jika di suatu tempat ada yang sudah positif DBD, harus segera melapor ke Puskesmas terdekat untuk segera dilakukan fogging pada lingkungan sekitar.