Budaya Fomo

Rillando Maranansha Noor SE
Rillando Maranansha Noor SE

PERNAH dengar istilah FOMO yang booming beberapa waktu terakhir ini?

Mari kita ulik deskripsi FOMO itu sendiri. FOMO merupakan singkatan dari Fear Of Missing Out yang bisa diterjemahkan sebagai rasa takut merasa “tertinggal” karena tidak mengikuti aktivitas tertentu.

Rasa takut atau kecemasan tersebut muncul akibat seseorang tersebut merasa ketinggalan akan hal-hal baru, seperti berita, tren dan lainnya.

Bicara FOMO akan sangat sulit bila harus dipisahkan dengan media sosial. Perkembangan teknologi membuat semua orang semakin mudah mendapatkan informasi terkait apa pun.

Banyak orang yang berbagi aktivitasnya setiap hari melalui postingan media sosialnya. Sebagian orang yang melihat postingan tersebut merasakan kecemasan.

Akibat membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain yang terlihat di media sosial, yang dirasa kehidupan orang lain tersebut  lebih senang, lebih indah dan lebih bahagia.

Apa sih contoh real dari FOMO? Misal beberapa waktu yang lalu beberapa orang merasa cemas bila tidak ikutan bermain lato-lato atau bermain layangan dengan ukuran besar.

Mereka merasa harus mengikutinya. Sedikit lebih relevan dengan kondisi saat ini misal penggunaan backsound lagu Bunga Hati nya Sala Salsabila di postingan video media sosial kita.

Atau bahkan gerakan tari dari lagu tersebut baik versi originalnya maupun versi jedag-jedugnya. Penggunaan smartphone pun merasa sesuatu yang tidak boleh ketinggalan.

Merasa tertinggal ketika masih menggenggam android bukan iphone, atau setidaknya menggunakan android model  fold, flip atau smartphone flagship lainnya.

Rasa Takut

Rasa takut dan cemas tersebut tentu memiliki efek samping seperti kepercayaan diri yang menurun, berusaha memaksakan mengikuti tren meski tak mampu secara finansial.

FOMO juga membuat seseorang menjadi semakin kepo atau ingin tahu dengan kehidupan orang lain. Penderita sindrom FOMO ini bisa dikategorikan sekumpulan orang-orang yang kurang bersyukur.

Selalu membandingkan kehidpannya dengan orang lain dan beranggapan kehidupan orang lain lebih baik. Ketergantungan dengan media sosial pun menjadi salah satu dampak negatifnya.

Beberapa orang beranggapan budaya FOMO ini memiliki aspek positif. Ketakutan dan kecemasan tidak up to date atau ketinggalan akan memotivasi sebagian orang agar bisa mengikuti tren atau meniru yang dilakukan orang lain.

Semangat

Penderita FOMO seperti ini cenderung akan semangat bekerja, semangat belajar agar ketertinggalan yang ditakutkan dan dicemaskan itu tidak dirasakan lagi.

Namun hati-hati, bahaya hustle culture atau gila kerja mengancam orang-orang seperti ini. Terlalu mendedikasikan diri terhadap pekerjaan tidak sepenuhnya baik, merasa lebih banyak aktivitas akan lebih baik tentu juga kurang baik.

Bicara FOMO tentu mengingatkan kita pada istilah NOMOPHOBIA atau ketakutan seseorang bila harus jauh atau tidak terhubung dengan gawai atau handphone nya.

Lebih tepatnya lagi pengertian Nomophobia (No Phone Phobia) adalah kecamasan dan ketakutan yang dialami seseorang karena tidak dapat berkomunikasi dengan orang lain melalui handphone.